PANDUAN HAJI

Nov 24, 2011 No Comments

MANASIK HAJI

1. Ta’rif / Pengertian

Haji secara bahasa artinya bekunjung ke tempat yang  agung (اَلْقَصْدُ إِلَى مَكَانٍ مُعَظَّمٍ).

Adapun makna Haji secara istilah agama adalah : berkunjung ke Baitullah untuk menunaikan manasik (ibadah, yaitu : ihram, Thowaf, sa’I, wuquf dan seluruh rangkaian ibadah haji ) yang dikerjakan pada tempat yang ditentukan dan pada waktu tertentu.

(الحج : هُوَ الْقَصْدُ إِلَى بَيْتِ اللهِ  ِلأَدَاءِ الْمَنَاسِك فِي مَكَانٍ مُعَيَّنٍ وَزَمَانٍ مُعَيَّنٍ )

2.  Hukum Haji

Ibadah Haji hukumya fardhu/wajib bagi seorang muslim yang telah mampu, sebagaimana firman Allah :

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran [3] : 97)

3.  Keutamaan (Fadhilah Haji)

a.  Haji termasuk amalan yang paling utama (Afdlolul  A’maal)

“Rasulullah ditanya tentang amalan apakah yang paling utama ? beliau bersabda : “Iman kepada Allah”, kemudian ada yang bertanya : ‘kemudian apa lagi?’, Rasul menjawab : “Jihad fii sabilillah”, kemudian ditanya lagi : ‘kemudian apa lagi?’, Rasul menjawab lagi : “Haji Mabrur” (HR. Muttafaq Alaih)

b. Ibadah Haji bisa menghapus dosa

Barangsiapa yang berhaji karena Allah, dan ia tidak berbuat rofats (berkata kotor) dan tidak fasiq (pelanggaran/kemaksiatan), maka ia akan kembali seperti waktu dilahirkan ibunya (bersih dari dosa) (HR. Bukhari, Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah)

c. Jamaah Umroh & Haji adalah Tamu Allah, jika mereka  mohon ampun akan diampuni dosanya dan jika berdoa akan dikabulkan

d. Dilipatgandakannya kebaikan

Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama seribu kali dibanding sholat dimasjid lainnya kecuali masjidil haram. Dan sholat di masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali dibanding sholat dimasjid lainnya (HR. Ahmad)

 e. Pahalanya surga bagi haji mabrur & pembebasan dari api neraka

Umroh yang satu ke umroh yang lain pahalanya sebagai penebus dosa diantara keduanya, dan haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga (HR. Bukhari & Muslim)

Tiada hari yang paling banyak Q membebaskan hamba-Nya dari api neraka dari hari Arafah (HR. Muslim)

 

4. Rukun Haji

Adalah Amalan yang harus/wajib dikerjakan dan kalau ditinggalkan maka hajinya tidak sah, dan tidak bisa diganti atau ditebus dengan cara membayar dam, puasa, fidyah atau diwakilkan. Adapun rukun-rukun haji  adalah sbb :

1.  Ihrom / Niat Umroh ( إِحْرَامٌ (نِيَّةٌ) )

2.  Wuquf di padang Arafah ( اَلْوُقُوْفُ بِعَرَفَة )

3.  Thowaf Ifadhah ( طَوَافُ اْلإِفَاضَةِ )

4.  Sa’I ( اَلسَّعْيُ )

5. Bercukur/memotong rambut ( اَلْحَلْقُ أَوِ التَّقْصِيْرُ )

6. Tertib/berurutan ( تَرْتِيْبٌ )

 

5.  Wajib Haji

Adalah amalan yang harus dilaksanakan dan apabila tidak dilaksanakan / tertinggal dapat diganti dengan dam (sembelih kambing) dan hajinya sah.  Adapun wajib haji  adalah :

  1. Niat Ihram di Miqat  ( الإِحْرَامُ مِنَ الْمِيْقَاتِ )
  2. Mabit/Bermalam di Muzdalifah ( اَلْمَبِيْتُ بِمُزْدَلِفَة )
  3. Mabit/Bermalam di Mina (اَلْمَبِيْتُ فِي مِنَى  )
  4. 4. Melempar jumroh ( رَمْيُ الْجِمَارِ )
  5. 5. Thowaf Wada’ ( طَوَافُ الْوَدَاعِ )

 

6.   Sunnah Haji

Sunnah, adalah suatu amalan yang apabila di kerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mempengaruhi sahnya haji atau Umroh, dan tidak diharuskan membayar dam/denda. Yang termasuk sunnah haji  adalah :

  1. Mandi Ihram
  2. Berpakaian warna putih
  3. Shalat sunnah sebelum ihram
  4. Memakai wewangian sebelum niat Ihram (khusus bagi laki-laki)
  5. Membaca Talbiyah
  6. Shalat Sunnah Thowaf
  7. Thowaf Qudum (bagi yang berhaji Ifrad atau Qiran)

 

7.   Kaifiyah / Tata Cara  Haji

3 cara pelaksanaan haji :

  1. Tamattu’ : Ialah niat mengerjakan umroh terlebih dahulu sampai selesai pada bulan haji, baru kemudian pada tanggal 8 dzulhijjah berniat untuk mengerjakan haji (cara ini wajib membayar dam nusuk/dam ibadah)
  2. Ifrad  : ialah niat mengerjakan haji saja, baru kemudian mengerjakan umroh (cara ini tidak wajib membayar dam)
  3. Qiran : ialah mengerjakan haji & umroh dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus (cara ini juga wajib membayar dam nusuk/dam ibadah)

- Cara yang lebih utama adalah Tamattu’, baru kemudian Qiran dan Ifrad.

RINCIAN TATA CARA PELAKSANAAN HAJI

Sebelum membaca niat haji atau umroh para jamaah dianjurkan melakukan sunnah – sunnah sebagai berikut :

  1. Mandi Ihram (seperti mandi besar /  janabah)
  2. Berpakaian 2 helai kain warna putih (adapun baju ihram untuk wanita adalah yang penting  menutupi semua aurat kecuali wajah & telapak tangan, bajunya tidak boleh tipis / transparan, tidak membentuk tubuh, dan harus longgar)
  3. Shalat sunnah sebelum ihram
  4. Memakai wewangian dibadan sebelum niat Ihram (khusus bagi laki-laki)

a. Tamattu’

Bagi jamaah yang mengambil Tamattu’, maka ia harus melaksanakan umroh terlebih dahulu yang dilakukan di bulan-bulan haji (Syawal, Dzulqo’dah & 8 hari pertama bulan Dzulhijjah). Setibanya di miqat maka ia membaca niat umroh. Adapun lafadz niatnya adalah :

Labbaikalloohumma Umrotan

“Ya  Allah aku memenuhi panggilan-MU untuk menunaikan umroh”

Setelah membaca niat kemudian langsung disambung membaca talbiyah.

Setelah tiba di Mekkah para jamaah menuju masjidil haram untuk menyempurnakan umrohnya. Adapun tata cara umroh secara rinci bisa dilihat pada bab sebelumnya tentang umroh. Setelah jamaah selesai menyempurnakan amalan umroh (ihram, Thowaf, sa’i dan bercukur) dengan demikian ia telah tahallul dari ihram umroh dan boleh melepaskan kain ihram serta terbebas dari larangan larangan ihram lainnya. Kemudian ia menunggu tanggal 8 dzulhijjah untuk menunaikan amalan haji.

b. Ifrad

Bagi jamaah yang mengambil Ifrad, maka setibanya di miqat ia membaca niat haji. Adapun lafadz niat haji ifrad adalah :

Labbaikallaahumma Hajjan

Ya Allah aku memenuhi panggilan-MU untuk menunaikan haji”

 

Setelah membaca niat langsung disambung dengan bacaan talbiyah.

Kemudian setibanya di mekkah ia Menuju masjidil Haram untuk melaksanakan Thowaf Qudum. Setelah selesai Thowaf ia menuju tempat sa’i (Mas’a) untuk melaksanakan Sa’i. Setelah selesai sa’i maka ia tetap dalam keadaan ihram, dan tidak boleh mencukur rambut maupun melanggar larangan-larangan ihram. Pada tanggal 8 dzulhijjah menuju Masya’ir (tempat-tempat haji seperti Mina Arofah & Muzdalifah) untuk menunaikan amalan – amalan haji hingga selesai.

Kemudian ia tetap keadaan ihram sampai ia menyelesaikan semua ibadah hajinnya.

c. Qiran

Bagi jamaah yang mengambil Qiran, maka setibanya di miqat ia membaca niat haji yang kemudian langsung disambung dengan bacaan talbiyah. Adapun lafadz niat haji qiran adalah :


Labbaikallaahumma Umrotan wa Hajjan

“Ya Allah aku memenuhi panggilan-MU untuk menunaikan umroh & haji”

Kemudian setibanya di mekkah ia Menuju masjidil Haram untuk melaksanakan Thowaf Qudum. Setelah selesai Thowaf ia menuju tempat sa’i (Mas’a) untuk melaksanakan sa’i. setelah selesai sa’i maka ia tetap dalam keadaan ihram, dan tidak boleh mencukur rambut maupun melanggar larangan-larangan ihram. Pada tanggal 8 dzulhijjah menuju Masya’ir (tempat-tempat haji seperti Mina, Arofah & Muzdalifah) untuk menunaikan amalan – amalan haji hingga selesai.

AMALAN-AMALAN HAJI

PADA TANGGAL 8 DZULHIJJAH :

A. IHRAM [ إِحْرَامٌ ] a bagi Tamattu’

Bagi jamaah yang mengambil tamattu’ maka pada tanggal 8 dzulhijjah ia mulai membaca niat untuk melaksanakan haji ditempat ia tinggal. Adapun bacaan niatnya adalah :


“Labbaikallahumma hajjan”

“Aku penuhi panggilan-Mu Yaa Allah, untuk menunaikan ibadah Haji”

(Adapun jamaah yang mengambil Ifrad & Qiran ia tetap masih dalam keadaan ihram sejak awal).

 

Setelah itu para jama’ah dianjurkan memperbanyak bacaan talbiyah:

“Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wanni’mata laka wal mulk, laa syariika laka”

 

Bagi jamaah laki-laki disunnahkan bertalbiyah dengan suara keras / jahr, sedangkan bagi jamaah wanita cukup membaca dengan sirri / lirih atau tidak keras, sebatas cukup didengar sendiri.

B. TARWIYAH / MABIT DI MINA 

Kemudian jamaah menuju Mina untuk Tarwiyah. Dianjurkan menuju mina sebelum tergelincir matahari (sebelum dhuhur), lalu ia sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ & Shubuh di Mina dengan mengqashar sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat.

Disunnahkan bagi jamaah untuk bermalam/mabit di Mina pada hari ini sampai shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah jika mampu, lalu setelah shubuh ia pergi ke Arafah dengan tenang sambil membaca talbiyah, takbir, dzikir & doa.

 

TANGGAL 9 DZULHIJJAH

C. WUKUF DI ARAFAH

­   Pada pagi hari ini tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) para jama’ah berangkat ke padang Arafah untuk melakukan Wukuf. Wukuf dimulai setelah matahari tergelincir (ba’da zawal) hingga terbenamnya matahari.

­   Wukuf merupakan hal pokok dalam ibadah Haji yang harus dilaksanakan oleh setiap jama’ah Haji. Tidak melakukan wukuf di Arafah berarti Hajinya tidak sah, karena ini termasuk rukun Haji.  Rasulullah bersabda :

(Haji itu adalah (Wukuf) di Arafah, barang siapa datang pada malam hari (malam menginap di Muzdalifah) sebelum fajar berarti wukufnya sah)

­   Pada hari ini hendaklah para jama’ah benar-benar menyibukkan dirinya dengan memperbanyak Talbiyah, Dzikir, Istighfar, Taubat, Takbir dan Tahmid, serta menghadap Q dengan tunduk dan khusyuk. Jangan habiskan waktu untuk santai-santai, ngobrol yang tidak ada maknanya, tidur atau aktifitas lain yang tidak ada nilai dzikir kepada Allah.

­   Apabila waktu Dhuhur imam akan memberikan khutbah di hadapan jama’ah untuk memberikan peringatan, nasihat dan pelajaran. Kemudian shalat Dhuhur dan Ashar dilakukan dengan Jama’ dan Qhashar.

 

D. MABIT DI MUZDALIFAH 

­   Pada saat matahari terbenam tanggal 9 Dzulhijjah, para jama’ah pergi ke Muzdalifah untuk melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya dengan Jama’ dan Qashar (boleh juga sholat di Arafah sebelum berangkat ke Muzdalifah)

­   Selama bermalam di Muzdalifah para jama’ah bisa memanfaatkan untuk istirahat guna menyiapkan diri untuk aktifitas besok yang lebih padat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah r, serta memanfaatkan kesempatan untuk mencari batu (untuk lempar jumroh), minimal 7 (tujuh) butir untuk Jumroh Aqabah, atau 49 butir (Nafar awal)  atau 70 (Nafar tsani) butir untuk melempar  jumroh pada hari selanjutnya di Mina.

­   Sunnahnya adalah para jama’ah bermalam di Muzdalifah sampai sholat shubuh disana dan bergerak keluar dari Muzdalifah sebelum terbit matahari. Dibolehkan bagi jamaah yang lemah, wanita dan yang sakit untuk maninggalkan Muzdalifah lebih awal / setelah lewat tengah malam.

TANGGAL 10 DZULHIJJAH

E. HARI RAYA KURBAN

Amalan Haji pada hari ‘Ied

1. Melempar Jumroh Aqabah

Pada pagi hari Tanggal 10 Dzulhijjah sebelum matahari terbit, para jama’ah berangkat ke Mina dengan memperbanyak membaca Talbiyah dan Takbir. Sesampainya di Mina jamaah melempar Jumroh Aqabah, yaitu Jumroh yang paling dekat dengan Mekkah. Melempar Jumroh Aqabah sebanyak 7 (tujuh) butir berturut-turut. Dan setiap melempar Jumroh sambil membaca Takbir, yaitu :


Allahu Akbar

2. Menyembelih Hadyu

Setelah melempar jumroh aqabah jamaah menyembelih Hadyu (Hewan sembelihan) bagi yang berkewajiban seperti yang berhaji tamattu’ dan Qiran.

3.  Mencukur 

Setelah itu jamaah mencukur rambutnya hingga gungul, boleh juga memendekkannya, akan tetapi yang lebih afdhol adalah mencukur gundul karena Rasulullah SAW mendoakan tiga kali, sedangkan yang memendekkan didoakan nabi cuma sekali.

Setelah melaksanakan lempar jumroh Aqobah, menyembelih hadyu dan bercukur berarti jamaah telah melakukan Tahallul Awal, maka setelah itu seluruh larangan Ihram Haji telah gugur kecuali larangan hubungan suami istri.

4. Thowaf Ifadhah

Kemudian jamaah menuju Mekkah untuk melaksanakan Thowaf Ifadhah yang merupakan rukun haji.

Setelah jamaah melaksanakn 3 amalan haji di hari nahr  ini (yaitu : lempar jumroh Aqabah, bercukur & thowaf ifadhah) berarti ia telah Tahallul Tsani, maka setelah itu ia bebas dari seluruh larangan-larangan ihram termasuk hubungan suami istri.

 

5. Sa’I

Setelah selesai thowaf jamaah (yang Tamattu’) manuju tempat Sa’I (Mas’a) untuk melaksanakan Sa’i yakni berjalan dari bukit Shofa ke bukit Marwah sebanyak 7 kali dengan memperbanyak dzikir, istighfar & doa.

(Adapun yang mengambil Ifrad & Qiran ia tidak perlu melaksanakan sa’i, karena sa’i yang dilakukan dahulu pada saat setelah Thowaf qudum sudah termasuk sa’i haji)

Catatan :

  1. Apabila jamaah mendahulukan amalan yang satu atas yang lain pada tgl 10 Dzulhijjah ini maka tidak dilarang (misalnya mendahulukan thowaf sebelum lempar jumroh, atau thowaf sebelum bercukur atau Hadyu, dsb) sebagaimana penjelasan Rasulullah r.
  2. Thowaf Ifadhah boleh dilakukan pada hari Tasyriq atau setelahnya.

TANGGAL 11, 12 & 13 DZULHIJJAH (TASYRIQ)

F. MABIT DI MINA

  1. Setelah Thowaf ifadhah pada hari nahr (10 Dzulhijjah), jamaah kembali ke mina sebelum matahari terbenam. Dilanjutkan dengan bermalam (mabit) di mina pada malam-malam Tasyrik (tgl. 11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Tidak mengapa jika bermalam hanya dua malam saja (nafar awal), dan boleh juga bermalam tiga malam (nafar tsani)
  2. Selama di Mina, lemparlah ketiga Jumroh secara berurutan mulai dari Jumroh ‘Ula, Wustha dan Aqabah, dan masing-masing dilempar 7 (tujuh) kali. Waktu yang paling utama untuk melempar Jumroh pada hari tasyrik  adalah setelah matahari tergelincir / ba’da zawal.
  3. Disunnahkan setelah melempar Jumroh Wustho & Jumroh Sughra untuk berhenti sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan dan berdoa dengan doa yang ia sukai. Adapun Jumroh Aqobah maka tidak dianjurkan berhenti dan berdoa. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah r.
  4. Disunnahkan selama mabit di Mina jamaah haji memperbanyak membaca dzikir.
  5. Jika menghendaki bermalam di mina hanya dua hari, maka hendaklah meninggalkan mina sebelum matahari terbenam. Akan tetapi jika belum keluar dari perbatasan mina padahal matahari sudah terbenam, maka hendaklah bermalam satu malam lagi (nafar tsani), serta melempar Jumroh pada tanggal 13 Dzulhijjah.

 

Catatan:

  1. Bagi jamaah yang sakit atau lemah, boleh mewakilkan kepada orang lain untuk melempar Jumroh.
  2. Bagi orang yang mewakili orang lain untuk melempar Jumroh, maka pada setiap sesi ia harus melempar Jumroh (7x) untuk dirinya terlebih dahulu, baru kemudian untuk orang yang diwakilinya

 

(Bagi jamaah yang mengambil Ifrad maka setelah amalan haji selesai ia harus melaksanakan umroh. Ia bisa pergi ke Ta’im atau Ji’ronah untuk mengambil Miqat umroh, kemudian menyempurnakan umrohnya hingga selesai)

 

G. THOWAF WADA’

Setelah jamaah selesai melaksanakan semua rangkaian ibadah Haji, bagi yang hendak meninggalkan Mekkah / Baitullah maka hendaknya melakukan Thowaf Wada’ (Thowaf perpisahan). Ini berdasarkan perintah Rasulullah r :

Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian maninggalkan Mekkah, sebelum mengakhiri keberadaanya dengan thowaf di Baitullah”

Thowaf wada’ adalah wajib haji yang terakhir yang harus dilakukan jamaah haji sebelum ia kembali ke negrinya.

 

news